?

Log in

Preparing for Internet wellness

Online conduct that’s wise and positive helps us have a healthy lifestyle.

INTERNET wellness is an unfamiliar term to most people. Although many of us use the Internet daily in numerous facets of our lives, few understand what Internet wellness means, let alone promote it as a must-do when we surf or engage in other cyberspace technologies and activities.

Internet or cyber wellness is defined as a practice of positive behaviour and attitude by Internet users. It refers to an understanding of maintaining positive outlook in order to get positive outcomes in using the Internet and finally creating and promoting a positive cyberspace environment for all.

It is also about how an individual protects himself, not only against visiting websites full of bad content, but also in curbing the negative effects that may arise from going to such websites, so that the impact will not spread easily in the family or society.

Everybody should understand well and practise what is meant by Internet wellness and how to propagate it as a standard practice in living healthily. A healthy lifestyle is a choice by well-informed individuals.

Consider what a healthy lifestyle is. Here is The American Heritage Dictionary of the English Language’s definition: “A way of life or style of living that reflects the attitudes and values of a person or group.”

This means someone’s lifestyle is his way of looking and perceiving, as well as practising and leading his life, based on his perspective and world view.

Someone who leads a healthy lifestyle is truly aware that he has made wise, positive and healthy choices in his life and he understands the reasons and consequences of those decisions.

When Internet wellness is a part of a person’s healthy lifestyle practices, it indicates that he is well-­informed about the nature of the Internet, and its technology, content, and the do’s and don’ts.

He also understands how to behave responsibly when dealing with Internet-related activities and issues.

Why is Internet wellness important? Everybody must be aware that the Internet, gadgets and technology can be double-edged swords.

The Internet and cybertechnology were developed to allow us to better communicate and share knowledge globally.

Our lives have changed significantly in recent years. So has the Internet and technology.

Despite this, we should not compromise our values and virtues just to compensate for the fast-changing world of the Internet and techno­logy.

Rather, we should be in control over Internet use and activities and not let these enslave us and our values.

How does Internet wellness contribute to health and wellbeing? The fact is, wellness in whatever form contributes significantly to the promotion and maintenance of health and wellbeing, as well as to the development of good quality of life in general.

Similarly, Internet wellness provides Internet users with some methods and information that will guide them on how to get the best experience from using the Internet. These should form part of their good Internet habits.

Key components of good Internet habits include being respectful to other users, being honest, and always surfing the Internet with good intentions and a positive attitude.

It is not a good habit to go online with the aim of doing harm to others. This defeats the purpose of creating and promoting cyber world as a good place for communicating and strengthening human relationships.

Internet wellness requires that we use the Internet wisely, ethically and precisely, in terms of visiting the right websites and searching for specific and relevant information.

Timeliness in Internet wellness requires that one is aware of the time he spends in the cyber world. The longer one surfs, the more likely that the outcome will be negative. Long hours of surfing can be detrimental to one’s mental and physical health and wellbeing.

Indeed, eschewing bad habits and behaviour is compulsory as ordained by Islamic teaching. Each Muslim individual is required to curb negative habits and actions, and promote good and positive behaviour.

In the Quran, God promises those who call on good deeds, “Let there among you be a group that summons to all that is beneficial, commands what is proper and forbids what is improper; they are the ones who will prosper.” (Chapter 3, verse 104).

Among the purposes of this teaching is to establish the understanding and awareness of morals and virtues and that they are spread in society, and when practised, they will eventually create a positive and peaceful environment, so that there is harmony in society .Khairul Azhar Idris The STAR Home Opinion Columnists IKIM Views Tuesday, 6 December 2016

Tags:

Menghormati agama lain

SOALAN:

Apakah wajar ada pihak yang menghina agama lain apabila wujud persengkataan politik, agama, atau bangsa?

JAWAPAN:

Dalam kehidupan manusia yang hakikinya sama tarafnya disisi Allah SWT, penghinaan atau memperlekeh sesama manusia wujud apabila perasaan lebih hebat atau lebih mulia berbanding manusia lain.

Perasaan ini mungkin dianggap sesetengah pihak adalah normal akan tetapi ia tidak disisi agama Islam. Dalam Islam, Rasulullah SAW banyak mendidik umatnya untuk hormat dan meraikan insan dari bangsa atau agama lain. Hal ini membuktikan bahawa apa yang disampaikan Rasulullah ini (agama Islam) adalah jalan yang benar. Jalan yang membawa kepada fitrah sebagai makhluk Sang Pencipta.

Namun adalah menjadi suatu keburukan buat agama Islam apabila ada antara umatnya menghina agama lain akibat terasa diri kita terlalu dimuliakan kerana Islam atau kerana kebencian akibat apa yang dilakukan oleh bukan Islam kepada umat Islam.

Allah SWT berfirman:

"Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan Setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan." (Al-An'am: ayat 108)

Dalam ayat Allah di atas dapat kita perhatikan bahawasanya Allah mengetahui ada antara ciptaanNya yang merasakan diri mereka betul dan benar dan orang lain yang salah. Kerana itulah timbul penghinaan dan hakisan sikap hormat menghormati.  Malahan jika kita mahu menarik mereka yang bukan Islam untuk masuk Islam juga memerlukan cara yang paling halus dan hikmah.

Firman Allah SWT: "Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (An-Nahl: ayat 125).

Mari kita ingat kembali kisah bagaimana Rasulullah bergaul dengan mereka yang bukan Islam ketika ada antara mereka membantah dan membenci Rasulullah sehingga tahap ada yang mahu baginda mati akan tetapi akhirnya ramai antara yang membenci Rasulullah dengan rela hati menerima apa yang disampaikan Rasulullah SAW dan beriman kepada Allah yang satu kerana Rasulullah bukan sekadar benar perkataannya akan tetapi benar pada perilaku dan akhlaknya.

Inilah yang sepatutnya dicontohi oleh semua umatnya yang mengaku Muhammad itu Rasulnya.

Pernah guru saya di selatan Thailand dahulu menyatakan “Ingatlah, dahulu orang-orang musyrik berkata terhadap Rasulullah SAW itu ahli sihir, dukun, pendusta serta perkataan hinaan lainnya. Malahan umat Islam ketika itu pernah diboikot. Namun, Allah memerintahkan RasulNya untuk bersabar.

Kaum muslimin ketika itu tidak melakukan demonstrasi membantah di Mekah, mereka tidak menghancurkan sedikit pun dari rumah-rumah kaum Musyrikin, mereka juga tidak membunuh seorang pun. Sabar dan tenanglah sampai Allah SWT memudahkan jalan keluar bagi kaum muslimin.”

Kita tidak perlu mendoakan laknat kepada kaum atau bangsa lain. Kita tidak layak untuk menghukum dan membenci.

Sedarkah kita setiap kali kita membaca Al Quran, pada awal surah kita akan menyebut sifat Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Menjadi suatu kegagalan apabila kita menyebut sifat Allah SWT yang terpuji itu akan tetapi kita tidak pemurah, kita tidak penyayang malahan kita sebenarnya pembenci, penghukum, dan penghina.

Apakah kita anggap kita dah layak untuk menghina dan menghukum lebih dari Maha Penghukum dan Maha Mengadili?.

Marilah kita ambil iktibar dan betul-betul menghayati agama Islam kita sendiri yang indah ini.

Sejak akhir-akhir ini Islam dihimpit penyeksaan dari mereka yang menjadi musuh Islam. Sepatutnya ketika inilah kita ambil peluang berdakwah melalui akhlak kita seperti apa yang Rasulullah SAW pernah tunjukkan. Jika kita ambil tindakan membenci atau membalas dengan kekerasan maka kita sendiri sama seperti mereka atau kita sendiri akan mencemar agama kita dengan mengikut kemarahan diri kita.

Ibnu Qayyim Rahimahullah dalam kitab I’lamul Muwaaqi’in menjelaskan, “Allah SWT melarang kita mencela tuhantuhan orang musyrik dengan pencelaan yang keras atau sampai merendah-rendahkan mereka (secara terang-terangan) karena hal ini akan membuat mereka akan membalas dengan mencela Allah SWT. Tentu termasuk maslahat besar bila kita tidak mencela tuhan orang kafir agar tidak wujud impak celaan kepada Allah. Jadi ini adalah peringatan tegas agar tidak berbuat seperti itu, supaya tidak menimbulkan impak negatif yang lebih parah.”

Semoga kita mengambil iktibar atas apa jua yang pernah ditunjukkan Rasulullah SAW agar menjadi panduan kita dalam berhadapan dengan musuh Islam. Rasulullah adalah sebaik-baik contoh buat kita seperti yang kita ikrarkan. Rasulullah sebaik-baik misalan hingga dakwahnya tidak sekadar pada lidahnya akan tetapi pada akhlak dan tindakannya.

Wallahua'lam

Tags:

Peka dengan taklik yang dilafazkan

ADA sesetengah suami isteri kurang memberi perhatian atau tidak ambil kisah akan janji (lafaz taklik) yang pernah dilafazkan sebaik selesai upacara akad nikah suatu ketika dahulu. Ada pula pasangan yang sikit-sikit rujuk kepada lafaz taklik yang pernah dilontarkan di bibir suami. Alasannya, kerana tidak mahu berlaku permasalahan dalam rumah tangga mereka. Itu tindakan pasangan yang peka dan berhati-hati dalam mengemudi alam rumah tangga.

Lumrah manusia, mudah lupa dengan janji yang pernah dilafazkan. Mungkin dalam sesetengah hal, tidak mengapa. Namun lain pula dengan janji yang dilafazkan suami, jika tidak diambil peduli maka jatuhlah talak (sebagaimana yang dilafazkan). Perihal agama perlu sentiasa diingat-ingatkan, tidak mahu sudah terhantuk baru tengadah. Tambahan pula, ALLAH SWT ada berfirman dalam Surah Al-Ma'idah ayat satu menyuruh hamba-Nya supaya patuh pada janji  yang dilafazkan.

PERLU BERWASPADA

Minggu ini Rehal mendapatkan Ketua Pendaftar Jabatan Kehakiman Syariah Perak, Tuan Ab Rahman Thobroni Mohd Mansor untuk mengulas lebih lanjut mengenai cerai taklik.

Kongsi beliau, dari segi bahasa, perkataan taklik itu sendiri berasal daripada perkataan bahasa Arab - a'laqa yang bermaksud dikaitkan atau disandarkan. Menurut istilahnya pula, suatu perceraian berlaku akibat daripada perlanggaran janji atau syarat yang dikaitkan dengan talak. Secara mudah fahamnya, cerai taklik adalah cerai yang dikait atau digantung dengan sesuatu perkara atau janji/syarat.

Beliau menjelaskan, cerai taklik akan berlaku apabila pelanggaran kepada syarat atau larangan yang diberikan. Sebagai contoh, suami berkata kepada isterinya: "Jika kamu keluar rumah pada malam ini gugur talak ke atas kamu".

"Talak akan berlaku apabila isteri itu, keluar rumah pada malam tersebut kerana isteri telah melanggar larangan atau tegahan yang dibuat oleh suami. Jika isteri tersebut tidak keluar rumah pada malam tersebut maka tidak gugur talak, kerana tidak melanggar syarat.

"Antara contoh lain lagi, kebiasaannya selepas akad nikah dilafazkan, suami dikehendaki menyebut lafaz taklik di hadapan kadi atau jurunikah dan saksi, antaranya janji yang dinyatakan dalam lafaz tersebut: "Tiap-tiap aku (suami) tinggalkan atau tidak aku memberi nafkah yang layak bagiku akan isteriku tiga bulan atau lebih lamanya dan mengadu dia kepada mana-mana kadi syarie dan sabit pengaduannya pada sisi kadi itu, maka tertalaklah isteriku itu dengan satu talak. Dan, sekiranya perkara  yang dijanjikan oleh suami itu gagal ditunaikan, maka suami sudah dikira melanggar taklik atau janji. Walau bagaimanapun perlanggaran taklik ini hendaklah disabitkan oleh mahkamah syariah," katanya.

Menurut beliau lagi, lafaz cerai taklik adalah suatu lafaz yang diucapkan atau melalui bahasa isyarat yang digunakan untuk menyatakan niat menjatuhkan talak dengan mengaitkan pasangan  dengan sesuatu perkara.

AMARAN PADA PASANGAN

Pada masa ini lazimnya setiap pasangan yang bernikah di Malaysia, pengantin lelaki yakni si suami dikehendaki melafazkan taklik di hadapan kadi, naib kadi atau pendaftar perkahwinan dan saksi sebaik sahaja akad nikah dijalankan. Lafaz taklik adalah  sebagaimana yang tercatat pada sijil nikah dan ia ditetapkan oleh pihak berkuasa, walau bagaimanapun lafaznya berbeza antara negeri-negeri di Malaysia. Lafaz taklik yang seperti ini adalah mengikat suami supaya menunaikan tanggungjawab dan janjinya.

Selain daripada itu, lafaz taklik juga boleh berlalu pada bila-bila masa dan dalam berbagai bentuk, ia bergantung kepada syarat atau larangan yang dikaitkan dengan talak. Syarat tersebut boleh dikaitkan dengan masa, tempat dan keadaan. Lafaz seperti ini biasa berlaku apabila pasangan suami isteri ini bertengkar atau timbul perasaan curiga dengan tindakan pasangannya lalu mereka meletakkan syarat tertentu yang dikaitkan dengan talak bertujuan sebagai amaran kepada pasangannya. Taklik seperti ini biasanya suami akan meletakkan syarat atau amaran ke atas isteri.

RAMAI yang keliru dengan lafaz taklik ini, untuk memudah fahamkan lagi pembaca, dikemukakan dua situasi yang agak sama tetapi sedikit berbeza dan menjadi persoalan ramai.

SITUASI 1

Pasangan itu berkahwin, dan suaminya telah bertaklik jika isterinya menghisap rokok maka jatuh talak. Selang beberapa tahun, isteri terlupa larangan suami dan menghisap rokok semula. Adakah jatuh talaknya?

Keadaan ini jelas bahawa suami telah bertaklik dan melarang isterinya supaya tidak menghisap rokok. Larangan tersebut digantungkan dengan talak. Ini bermaksud jika isterinya menghisap rokok akan mengakibatkan jatuh talak. Apabila isteri tersebut menghisap rokok, maka isteri telah melanggar taklik atau syarat, dengan demikian telah gugur talak. Walaupun isteri itu terlupa.

SITUASI 2

Pasangan itu berkahwin dan suaminya bertaklik: "Isterinya tidak boleh berlaku curang dan perkara sebaliknya juga berlaku iaitu suaminya curang tetapi suaminya tidak merujuk perkara ini kepada mahkamah atau suaminya terlupa. Dalam masa yang sama mereka melakukan hubungan kelamin. Jika isterinya mengandung, adakah anak itu anak tidak sah taraf atau sebaliknya?.

Keadaan ini berbeza dengan persoalan di atas, tidak jatuh talak kerana isteri tidak melanggar syarat atau larangan yang dibuat oleh suami. Lafaz tersebut meletakkan larangan ke atas isteri supaya tidak berlaku curang, bukan kepada suami. Maka tidak ada halangan untuk melakukan hubungan kelamin kerana mereka masih suami isteri yang sah.

"Saya nyatakan di sini, antara syarat-syarat berlakunya cerai taklik adalah apabila suami mempunyai keahlian menjatuhkan cerai dengan melafazkan kata-kata taklik, isteri pula hendaklah menjadi ahli cerai (masih menjadi isteri yang sah) dan perlanggaran iaitu perkara yang diikatkan atau disyaratkan.

"Apabila berlaku cerai taklik, bilangan talak yang jatuh adalah bergantung kepada jumlah talak yang dilafazkan suami semasa membaca lafaz taklik tersebut. Sebagai contoh, suami berkata kepada isteri: 'Jika kamu berlaku curang, maka gugur talak tiga' dan seandainya si isteri melakukan apa yang dikatakan suaminya maka jatuh talak seperti yang disebut dalam lafaz," katanya.

Bagaimanakah caranya untuk rujuk balik apabila bercerai taklik, tambah beliau, ia bergantung kepada bentuk taklik. Cerai taklik boleh dirujuk jika perceraian tersebut sabit jatuh talak satu atau dua (talak ruji'e).

Menurutnya, ada juga cerai taklik yang tidak boleh rujuk, seperti perceraian yang disabitkan secara taklik tebus talak (taklik khulie). Ini dikategorikan sebagai bain sughra. Taklik khulie ini biasanya sepertimana lafaz taklik yang ditetapkan oleh negeri-negeri. Ini bertujuan untuk mengelakkan suami rujuk sebaik sahaja mahkamah membuat keputusan sabitkan talak. Sebagai contoh lafaz taklik khulie seperti "...dan apabila sabit aduannya di sisi mahkamah syariah, dan dia memberi kepada mahkamah syariah yang menerima bagi pihak saya RM10 maka pada ketika itu tertalak dia dengan cara talak khulie". Walau bagaimanapun pasangan yang bercerai secara taklik khulie, boleh disatukan semula dengan akad yang baharu.

Katanya, jika taklik itu disabit jatuh talak tiga, maka tidak boleh dirujuk dan tidak boleh nikah semula kerana bain kubro.

CERAI TAKLIK ATAU UGUTAN?

Beliau berkata, ramai yang bertanyakan apakah perbezaan antara cerai taklik dan ugutan atau amaran? Ini jawapannya, cerai taklik adalah cerai yang dikaitkan sesuatu dengan talak seperti yang diterangkan pada perenggan atas. Perkara atau syarat yang diberi itu berkemungkinan sebagai ugutan atau memberi amaran kepada pasangan supaya tidak berbuat sesuatu yang tidak disukainya bagi memastikan rumah tangga yang dibina sentiasa aman dan damai.

"Boleh disimpulkan bahawa tujuan meletakkan syarat itu adalah sebagai ugutan atau amaran supaya pasangannya tidak melakukan perkara tidak disukainya.

"Kebanyakan lafaz taklik di setiap negeri adalah berbeza. Ada yang berkisar kepada suami ghaib sehingga empat bulan lamanya atau suami yang gagal memberi nafkah dalam tempoh tertentu atau suami yang melakukan penderaan terhadap isterinya. Dan apabila perkara sebegini berlaku dan pihak isteri mempunyai bukti yang kukuh, pihak mahkamah syariah akan mensabitkan penceraian secara taklik," katanya lagi.

Menurutnya, ada sesetengah pasangan yang kurang arif mengenai hal ini. Apabila berlaku situasi (melibatkan lafaz taklik) barulah mereka tercari-cari langkah penyelesaian. Adakah talaknya jatuh atau tidak? Saran beliau, pasangan tersebut hendaklah melaporkan kesnya ke mahkamah syariah, kenapa? Supaya mahkamah syariah boleh membuat siasatan lanjut dan memutuskan sama ada sabit atau tidak.

Tegasnya, lafaz taklik adalah suatu yang lafaz akad iaitu janji atau niat dan setiap perjanjian itu perlu ditunaikan. Dan jika suaminya ada menyebut perihal talak dalam lafaz taklik itu maka, jatuhlah talaknya sebagaimana tersebut.

Ditekankan di sini, lafaz taklik yang diucapkan suami di hadapan kadi, naib kadi, pendaftar nikah atau saksi selepas akad adalah suatu cara untuk pihak isteri menuntut cerai daripada suami.

Contoh lafaz taklik di Selangor:-

"Saya mengaku apabila saya tinggalkan isteri saya (nama isteri) selama empat bulan hijrah berturut-turut atau lebih dengan sengaja atau paksaan, dan saya atau wakil saya tiada memberi nafkah kepadanya selama tempoh yang tersebut pada hal dia taatkan saya atau saya melakukan sebarang mudarat kepada tubuh badannya, kemudian dia mengadu kepada mahkamah syariah, dan apabila sabit aduannya di sisi mahkamah syariah, dan ia memberi kepada mahkamah syariah, yang menerima bagi pihak saya satu ringgit maka pada ketika itu tertalak dia dengan cara talak khuluk."

Contoh lafaz taklik di Kelantan:-

"Bahawa adalah saya (nama suami) dengan ini bertaklik iaitu manakala saya tinggalkan isteri saya (nama isteri) selama empat bulan atau lebih dengan sengaja atau paksa atau saya atau wakil saya tiada memberi nafkah yang wajib kepadanya selama masa yang tersebut pada hal dia taat kepada saya atau saya menyakiti tubuh badannya atau saya tidak mengambil tahu mengenainya selama empat bulan atau lebih atau (nama isteri) kemudian dia mengadu kepada mana-mana kadi/hakim Syarak jika disabitkan oleh kadi/hakim syarak ini akan aduannya maka gugurlah talak saya dan dan tiap-tiap kali saya rujuk akan isteri saya tersebut tanpa redanya maka gugurlah pula satu talak lagi."

Apabila pemerintah dan ulama baik

"TERDAPAT dua golongan dalam kalangan umat aku, jika mereka baik, maka akan baiklah manusia: pemerintah dan ahli fiqh – dalam riwayat yang lain disebut- ulama."

Kedudukan hadis ini di sisi sarjana hadis, ia tidak sahih. Sebahagian menilainya sebagai hadis daif (lemah) bahkan ada juga yang menilainya sebagai mauduk’ (palsu).

Hadis ini mempunyai masalah pada sanadnya (susur jalur periwayat).  Salah seorang periwayatnya iaitu Muhammad bin Ziyad adalah seorang yang dikenali sebagai pendusta dan mencipta hadis palsu. Syeikh Al-Albani dalam Silsilah Ahadith Al-Dhaifah wa Al-Maudhua'h menukilkan pendapat ini daripada Imam Ahmad, Ibn Ma'in dan Al-Daruqutni.

Ibn Hajar Al-Asqalani dalam kitab Tahzib Al-Tahzib juga menukilkan pendapat daripada golongan sarjana hadis lain perihal Muhammad bin Ziyad. Antaranya ialah pendapat daripada Abu Hatim, Al-Bukhari, Al-Nasai, Al-Tirmizi, Ibn Hibban dan sebagainya. Kesimpulannya, Muhammad bin Ziyad adalah seorang yang lemah dan tidak dipercayai dalam kalangan mereka.

Jadi, hadis ini tidak boleh digunakan sebagai hujah. Namun begitu, kandungan hadis ini boleh dijadikan pengajaran di samping hadis-hadis sahih lain yang banyak membicarakan berkenaan pemerintah dan ulama.

Dua institusi penting

Tidak dinafikan pemerintah dan ulama adalah dua golongan yang penting dalam sesebuah masyarakat. Pemerintah memimpin rakyat untuk hidup sejahtera. Manakala ulama membimbing umat agar hidup berlandaskan agama. Dua golongan ini saling memerlukan.

Sekiranya pemerintah mentadbir dengan amanah, jujur dan adil, maka rakyat juga akan menikmati kehidupan yang tenang dan harmoni. Begitu juga ulama. Ulama yang menguasai manhaj (metodologi) beragama yang betul, akan mendidik masyarakat dengan kefahaman agama yang betul. Beramal di atas dalil yang sahih. Membanteras bidaah dan khurafat. Tidak takjub kepada satu mazhab sahaja dan menguruskan perbezaan pandangan dengan ilmiah dan matang.

Nasib pemerintah di akhirat

Rakyat sangat mengharapkan orang yang menjadi ketua mereka ialah pemimpin yang adil dan menjalankan pemerintahannya dengan penuh keadilan. Amanah dengan jawatan, tiada penyelewengan. Nasib dan hak rakyat terbela tanpa ada sebarang kezaliman. Pemimpin seperti inilah yang disenaraikan oleh Rasulullah SAW sebagai salah satu golongan yang akan mendapat naungan ALLAH di hari kiamat kelak.

Abu Hurairah meriwayatkan Rasulullah SAW bersabda: "Tujuh golongan yang ALLAH akan menaungi mereka pada hari tidak ada naungan melainkan naungan ALLAH: 1) Pemerintah yang adil..." (Riwayat Bukhari & Muslim)

Maka, seorang pemimpin boleh berada di dalam dua keadaan di akhirat kelak. Sama ada jawatannya dapat membantu untuk mendapat rahmat ALLAH dan dimasukkan ke dalam syurga, apabila dia memimpin dan memerintah dengan penuh keadilan. Atau, jawatan yang dipegang akan menyebabkannya mendapat kemurkaan ALLAH, disebabkan dia menjadi pemerintah yang zalim dan khianat kepada rakyatnya.

Sebab itu, Rasulullah SAW telah memberi amaran dan peringatan yang keras kepada golongan pemimpin yang tidak menjalankan pemerintahan mereka dengan adil. Abu Hurairah meriwayatkan  Rasulullah SAW bersabda: "Empat golongan yang ALLAH benci kepada mereka: (salah satu golongan tersebut ialah) pemimpin yang zalim." (Riwayat Al-Nasaie & Ibn Hibban, hadis hasan)

Anas bin Malik juga meriwayatkan Rasulullah SAW menyebut: "Sesiapa yang bertanggungjawab menguruskan sesuatu urusan kaum Muslimin, kemudian dia menipu mereka, maka dia di dalam neraka." (Riwayat Al-Tabrani, hadis sahih)

Justeru, mereka yang diberikan tanggungjawab menjadi pemerintah atau pemimpin dalam sesuatu urusan, hendaklah melaksanakan tanggungjawab tersebut dengan penuh adil, kerana kelak dia akan dipersoalkan. Rakyat atau orang yang dipimpin mengharap dan mengasihi pemerintah yang adil, bercakap benar, mengutamakan kepentingan rakyat, tidak mengamalkan rasuah dan sebagainya.

Mungkin, pesanan berikut boleh dijadikan renungan untuk kita bersama.

Aisyah meriwayatkan Rasulullah SAW bersabda: "Sekiranya ALLAH mahukan kebaikan kepada seseorang pemerintah, ALLAH akan jadikan baginya menteri/pembantu yang benar. Jika pemerintah itu terlupa, menterinya akan mengingatkannya, jika dia ingat, menteri tersebut akan membantunya. Sekiranya ALLAH mahukan kepada pemerintah itu selainnya (iaitu keburukan), maka ALLAH akan jadikan baginya menteri/pembantu yang jahat. Jika dia terlupa, menteri itu tidak akan mengingatkannya, jika dia ingat, menteri itu tidak membantunya." (Riwayat Abu Daud & Ibn Hibban, hadis sahih li ghairihi)

Ulama seumpama anjing

Selain pemerintah, satu lagi entiti penting dalam sesebuah masyarakat ialah golongan sarjana agama atau ulama. Sesebuah masyarakat yang mempunyai ulama akan menjadikan kehidupan masyarakat tersebut berada di atas landasan yang betul. Ini kerana, ulama adalah golongan yang mewarisi tugas nabi-nabi yang mengajak umatnya ke arah kebaikan dan mencegah kejahatan. Hal ini akan berlaku jika ulama benar-benar menjalankan tugasnya tanpa ada sebarang rasa takut dan tidak menyembunyikan kebenaran.

Namun begitu, perkara sebaliknya akan berlaku kepada masyarakat jika wujud ulama yang tidak menyampaikan kebenaran. Malah lebih parah lagi jika mereka pula yang menyelewengkan fakta dan kebenaran, dikaburi dengan satu dua ayat-ayat al-Quran dan hadis sebagai alasan. Lagi memeritkan sekiranya 'orang agama' menjadi pembela, penyokong dan 'penyuci dosa' kepada kejahatan dan penyelewengan pemerintah.

Itu belum dikira lagi golongan agama yang mempergunakan nilai agama dan jawatan yang disandang bagi mengisi kantung peribadi. Kerusi agama yang diduduki seakan-akan tidak dapat dirasai apakah kesannya kepada pembangunan nilai Islam. Sanggup mendiamkan kebatilan yang berlaku demi memastikan jawatannya tidak melayang. Apa yang disuarakan ialah perkataan bagus yang mahu didengari oleh pihak tertentu sahaja. Alangkah rendahnya maruah orang agama jika perlu menuruti perintah orang lain sehingga membelakangkan perintah al-Quran dan sunnah yang dipelajarinya.

Al-Quran tidak pernah mengelar orang lain dengan perumpamaan anjing melainkan kepada golongan agama yang sanggup menjual agama demi kepentingan peribadi.

"Dan bacakanlah kepada mereka (wahai Muhammad), khabar berita seorang yang Kami beri kepadanya (pengetahuan mengenai) ayat-ayat (Kitab) kami. Kemudian dia menjadikan dirinya terkeluar dari mematuhinya, lalu dia diikuti oleh syaitan (dengan godaannya), maka menjadilah dari orang-orang yang sesat dan kalau Kami kehendaki nescaya Kami tinggikan pangkatnya dengan (sebab mengamalkan) ayat-ayat itu. Tetapi dia bermati-mati cenderung kepada dunia dan menurut hawa nafsunya; maka bandingannya adalah seperti anjing, jika Engkau menghalaunya: dia menghulurkan lidahnya termengah-mengah, dan jika Engkau membiarkannya: dia juga menghulurkan lidahnya termengah-mengah. Demikianlah bandingan orang yang mendustakan ayat Kami. maka ceritakanlah kisah-kisah itu supaya mereka berfikir." (Surah Al-'A'raf: 175-176)

Oleh itu, dalam membina kehidupan dunia yang harmoni bagi menuju kehidupan akhirat yang dirahmati, kita perlukan kepada pemimpin yang mampu mentadbir dengan baik, amanah dengan jawatannya dan adil kepada rakyat. Begitu juga dengan ulama. Kita perlu merujuk kepada ulama yang jujur dengan ilmu, berani menyatakan kebenaran, tidak memperdagangkan agama untuk keuntungan diri, menguruskan perbezaan pandangan dengan matang dan mengajak manusia untuk mengangkat dan membesarkan ALLAH, bukan membesarkan dirinya.

Model remaja mithali jangan putus asa

SATU penyakit yang menghantui remaja sekarang adalah sikap putus asa atau cepat mengalah. Apabila gagal dalam percubaan pertama, sudah mengangkat bendera putih tanda sudah kalah. Sebagai contoh keputusan Ujian Pencapaian Sekolah Rendah (UPSR) baru-baru ini yang gagal memperoleh sebarang A, mereka sudah merasakan diri lemah, dilahirkan sebagai orang yang tidak bijak dan tidak mahu berusaha untuk peperiksaan akan datang lantas menyerahkan kepada takdir.

Sikap ini harus dijauhi oleh remaja. Islam mengajar umatnya agar tekun berusaha dan selebihnya bertawakal kepada Allah SWT. Namun Islam tidak menganjurkan umatnya berputus asa dan hanya mengharapkan maghfirah daripada Allah SWT semata-mata.

Selain sikap berputus asa, sikap malas juga melanda remaja. Sikap malas ini pastinya adalah musuh bagi orang yang berjaya. Sikap ini boleh dibahagikan kepada tiga iaitu, malas mendengar, malas berfikir dan malas bertindak. Malas mendengar nasihat orang lain, malas mendengar apa yang guru ajar di sekolah, malas mendengar ceramah-ceramah agama di masjid, malas mendengar perkara-perkara yang baik dan malas untuk berfikir hatta pada perkara yang mudah.

Remaja yang sudah berpu­tus asa seringkali me­nyerahkan kepada nasib dan takdir. Hakikatnya sindrom inilah akan memandulkan otak remaja dari-
pada berfikiran kreatif, inovatif dan berwawasan. Profesor Datuk Dr. Syed Hussien Alatas ada menulis dalam bukunya The Captive Mind menyebut tentang sikap ‘bebalisme’. Bebalisme ini bukannya merujuk kepada bodoh, bangang atau apa jua menunjukkan kebingungan tetapi sindrom malas berfikir dalam kalangan remaja yang perlu diatasi supaya mereka bertindak lebih kreatif, berfikiran kritis dan inovatif dalam mencapai matlamat hidup.

Malas berfikir dan bertindak ini turut dipengaruhi suasana pergaulan. Suasana pergaulan yang tidak dibatasi oleh syariat akan mengheret remaja ke kancah gejala sosial. Pengaruh rakan sebaya dalam kehidupan remaja mempunyai kesan dalam me­ngubah hidup seseorang remaja. Apabila tersilap langkah dengan memilih kawan yang rosak, tidak mustahil remaja tersebut juga terikut-ikut jejak langkahnya. Maka cubalah sebolehnya remaja dapat memilih rakan yang baik, yang soleh yang boleh memandu kepada jalan kebenaran.

Sebagaimana firman Allah SWT: “Sesungguhnya inilah jalan-Ku yang lurus, maka hendaklah kamu ikutinya dan janganlah mengikuti jalan-jalan lain, kelak akan porak-peranda kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan kepadamu agar bertakwa.” (Al-An’am, 6:153)

Justeru, apakah yang perlu dilakukan untuk menjadi remaja mithali seterusnya berjaya dalam hidup? Pertama pemikiran dan minda remaja perlu dicorakkan bagi memastikan kelangsungan pembangunan dan kemajuan negara. Kapasiti intelektual mereka perlu dijana sepenuh­nya. Dalam membentuk model mithali remaja, anjakan paradigma diperlukan bagi membolehkan mereka memahami, menghayati dan mengamalkan kepentingan serta ketinggian falsafah ilmu. Budaya pembelajaran sepanjang hayat, cintakan ilmu dan budaya iqra’ yang melibatkan proses mental yang tinggi hendaklah disemaikan ke dalam minda remaja yang adalah pewaris kebanggaan bangsa dan agama.

Begitu juga dengan masa remaja sepatutnya mereka sebanyak mungkin mencari pengalaman untuk persediaan menempuh dunia yang lebih mencabar. Dunia hari ini tidak mempertaruhkan keperkasaan tetapi ketajaman fikiran untuk menentukan untung nasib seseorang. Tumpukan sepenuh perhatian kepada pengajian dan sentiasa mempertingkatkan kemahiran insaniah seperti cara berkomunikasi dengan penuh beradab dan membina sahsiah diri yang terpuji. Imam Syafie R.A ada menyatakan bahawa: “Kamu tidak akan memperoleh ilmu kecuali dengan enam syarat: kecerdasan, semangat waja, rajin dan tabah, berkemam­puan, bersahabat dengan guru dan waktu yang lama.”

Selain itu, keutuhan dalam aspek kerohanian juga perlu diberi perhatian. Ketajaman minda sahaja tidak cukup tanpa dipandu oleh nilai-nilai sahsiah agama yang dapat mendidik jiwa dan memandu remaja menjadi insan ­berakhlak. Pembangunan intelektual yang tidak diiringi dengan kekudusan rohani akhirnya akan melahirkan robot-robot yang begitu bijak di dalam menganalisis segala pengkajian dan maklumat tetapi realiti kosong jiwanya. Sabda Rasulullah: ”Sesempurna keimanan dalam kala­ngan kamu ialah mereka yang indah akhlaknya.”

Ironinya, bekalan terbaik buat remaja untuk menjadi individu mithali dan contoh cemerlang di dunia dan gemilang di akhirat adalah kepercayaan dan kepatuhan kepada Yang Maha Pencipta. Ini selaras dengan nasihat Luqman al-Hakim yang adalah mutiara berharga untuk dijadikan pusaka bermakna dalam kehidupan insan. Katanya, “Sesungguhnya kehidupan kita ini ibarat sebuah kapal yang belayar di lautan dalam dan telah ramai manusia yang karam di dalamnya. Jika kita ingin selamat maka belayarlah dengan kapal yang bernama takwa, muatannya iman sedang layarnya pula adalah tawakal kepada Allah SWT.”

Oleh itu, jati diri adalah benteng pertahanan kepada diri remaja. Benteng ini dibina daripada asas akidah yang mentauhidkan Allah dan Rasul. Apabila robohnya benteng pertahanan dalam diri remaja, sudah tentu ia akan mudah terpengaruh dengan dakyah dan ancaman daripada pihak yang sedang berusaha memesongkan akidah pegangan kepercayaan terhadap Islam. Justeru, tidak hairanlah ada dalam kalangan remaja Islam telah hilang keyakinan dan keimanan mereka kepada Islam.

Kita tidak mahu remaja kita longlai, lembab tidak bermaya tetapi kita mahu lahirnya remaja yang bersemangat waja, berwawasan dan sihat. Sebagai remaja berpotensi mereka harus menjauhi penyakit malas, mudah berputus asa, cepat mengalah dan perkara-perkara yang boleh merosakkan tubuh badan dan sebagainya.   Nor Hartini Saari Utusan Malaysia Rencana Pandangan IKIM   05 Disember 2016 12:06 AM

Tags:

Friday Sermon Text 2 December 2016AD / 2 Rabiulawal 1438H JAWI

Our Role In Handling AIDS

AIDS is a condition in humans in which progressive failure of the immune system occurs after being exposed and infected with HIV, a virus that attacks the human immune system. This does not only threaten one's health, but it can potentially lead to death. It is easily spread when no strict control is enforced. Worse still, to this day,the cure for AIDS has yet to be found, even after extensive medical jawi_logo.jpgresearch has been conducted worldwide.

In addressing this issue, various efforts have been made by communities all over the world. Among these efforts is choosing 1 st of December each year as World AIDS Day, in order to raise awareness among the public, in the hopes that everyone will confront and stop the spread of the disease. In addition, it is also intended as an effort to correct and educate the society against discrimination towards AIDS sufferers. In fact, society should unite to defend and support them.

Dr. Yusuf al-Qaradawi once said that the main causes of the emergence of AIDS and its spread is due to the occurrence of aggression, namely the act against the order of nature and against the laws of Allah SWT, which is rampant illicit sex.

This is based on the words of Allah SWT in Surah al-Isra ', verse 32: Which means: “Nor come nigh to adultery: for it is a shameful (deed) and an evil, opening the road (to other evils).

This is why the wisdom of Islam has chosen to prohibit illicit sex itself, in comparison to efforts of mere prevention based on a technical nature without banning such actions.

Rasulullah SAW has warned and reminded us in relation to the catastrophe that may befall us with the spread of wrongdoings and misdeeds in society. Ibn Majah r.h recorded a narration from Abdullah bin Umar r.a, where Rasulullah SAW once said:Which means: "There would not emerge vices or misdeeds of a people until they do so openly except, among them, the spread of disease and famine that has never happened to those before them"

This hadith indicates that with the spread of vices which are uncontained by the community, negative implications would follow and would ultimately destroy the community. On the other hand, obedience and conviction would be followed by righteousness, blessings and graces in abundance from Allah SWT.

The question is, how do we, as Muslims, act when faced with a person with AIDS? This is where our attitudes and behaviour will be tested. We need to realize that, there are among them, who are truly sorry and repentant, and want to start a new life. There are also among them victims of unavoidable circumstances. Therefore, we should not marginalize them. Always provide help, support and motivation, as well as assist and guide them to live a more meaningful life.

Islam encourages its followers to endeavour and continuously search for remedies for diseases and sickness. Imam al-Bukhari Rahimahullah recorded a hadith as narrated by Abu Huraira r.a, where Rasulullah SAW was reported to have said: ً ُ ِشفَاء ِإَّل ا َأنََْ َل لَه ً دَاء ُ َّ ه مَا َأنََْ َل الل Which means: “There is no disease that Allah has created, except that He also has created its remedy.”

Confidence in the righteousness of Rasulullah SAW’s hadiths has made Muslims resolute and never give up in the face of misfortunes or catastrophes. In fact, through many disasters and misfortunes, Muslims have generated so much intellectual advancements, where acquired knowledge are explored to the point of building civilisations that have shaped the world.

The roles and responsibilities in dealing with the spread of AIDS lies on the shoulders of Muslims, whether the leaders or ordinary citizens. Everyone is endowed by Allah SWT with various capabilities. These efforts would not be successful if there is lack of cooperation from all sides. As stated by Allah SWT in Surah Ali 'Imran, verse 104:  Which means: “Let there arise out of you a band of people inviting to all that is good, enjoining what is right, and forbidding what is wrong: They are the ones to attain felicity.”

To end today’s sermon, let us ponder on some conclusions derived from it, as reflection and provision for all of us:

First: Blessings and misfortunes are tests of Allah SWT upon His servants, containing various blessings in disguise.

Second: AIDS is a disease arising from consequences of immoral conduct and activities. Therefore, Muslims are obliged to prevent and curb its growth and proliferation.

Third: It is the responsibility of all parties to sympathize and empathise with people suffering from AIDS, in order to correct the negative perception of them.

Allah SWT declared in Surah al-Nahl, verse 97: Which means: “Whoever works righteousness, man or woman, and has Faith, verily, to him will We give a new Life, a life that is good and pure and We will bestow on such their reward according to the best of their actions.”

Tags:

Petikan Khutbah Jumaat : 02 Disember 2016 JAIS

“Rohingya Saudara Kita ”

Krisis kemanusiaan, siri-siri penindasan, pembunuhan dan kezaliman yang berterusan dilakukan. Hari ini, kita menjadi saksi pula terhadap musibah yang ditimpakan ke atas kaum Muslim Rohingya di Arakan, yang dilakukan oleh kerajaan pemerintah mereka sendiri. Apakah ertinya semua ini? jais.jpgBilakah kesengsaraan ini semua akan berakhir? Bilakah manusia mahu berubah meninggalkan perangai buas, primitif dan durjana yang telah pun dihapuskan oleh agama?.

Rohingya adalah nama satu kumpulan etnik beragama Islam di utara Negeri Rakhine yang terletak di Barat Burma. Kebanyakan populasi Rohingya tertumpu di dua buah bandar utara Negeri Rakhine yang dahulunya dikenali sebagai Arakan. Orang Rohingya memiliki persamaan fizikal, bahasa dan budaya dengan orang Asia Selatan, terutamanya orang Bengali. Sesetengah orang Rohingya yang menetap di Arakan adalah berketurunan Arab, Parsi dan Pashtun yang berhijrah ke Arakan semasa era pemerintahan Empayar Moghul

Masalah yang berlaku ini adalah berpunca daripada kerajaan Myanmar yang tidak mengiktiraf etnik Rohingya yang berketurunan Bengali sebagai rakyatnya kerana kumpulan ini hanya memasuki negara tersebut pada kurun ke-19 ketika pemerintahan Britain. Menurut Perlembagaan Myanmar, hanya keturunan Bengali yang tinggal di negara itu sebelum kemerdekaan daripada Britain pada 1948 serta anak mereka sahaja yang boleh dianggap sebagai warganegara.

Namun, ini bukanlah suatu alasan yang munasabah untuk mereka ditindas, dibunuh, diseksa dan diusir dari tanah air yang telah lama mereka diami. Apakah pemerintah di Myanmar sudah hilang kewarasan sehingga membenarkan perlakuan ganas itu dilakukan ke atas sesama manusia? Tidakkah mereka sedar bahawa manusia hidup saling memerlukan? Tidakkah mereka tahu bahawa setiap manusia mempunyai hak untuk hidup dan merasai nikmat keamanan?.

Firman Allah SWT dalam surah an-Nisa’ ayat 1;“Wahai sekalian manusia! Bertaqwalah kepada Tuhan kamu yang telah menjadikan kamu bermula dari diri yang satu (Adam), dan yang menjadikan daripada Adam itu pasangannya isterinya Hawa, dan juga yang membiakkan dari keduanya zuriat keturunan lelaki dan perempuan yang ramai. Dan bertaqwalah kepada Allah yang kamu selalu meminta dengan menyebutnyebut nama-Nya, serta peliharalah hubungan kaum kerabat; kerana sesungguhnya Allah sentiasa memerhati dan mengawasi kamu”

Islam mengajar kita suatu hakikat yang azali bahawa semua manusia berasal dari keturunan yang sama. Kita semua berasal dari Nabi Adam AS dan kita seharusnya menerima sesiapa sahaja manusia sebagai sebahagian dari persekitaran dalam hidup kita. Islam meletakkan dasar bahawa semua manusia adalah sama. Apa yang membezakan antara mereka hanyalah taqwa, tahap kewaspadaan dan ketaatan mereka kepada Tuhan yang telah mencipta mereka.

Firman Allah SWT dalam surah al-Hujurat, ayat 13:“Wahai umat manusia! Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari lelaki dan perempuan, dan Kami telah menjadikan kamu berbagai bangsa dan bersuku puak, supaya kamu berkenal-kenalan (dan beramah mesra antara satu dengan yang lain). Sesungguhnya semulia-mulia kamu di sisi Allah ialah orang yang lebih taqwanya di antara kamu, (bukan yang lebih keturunan atau bangsanya). Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, lagi Maha mendalam pengetahuannya (akan keadaan dan amalan kamu).”

Setiap individu mendapat hak-hak asasinya tanpa dipinggirkan apatah lagi ditindas dan didiskriminasikan. Tindakan yang dilakukan oleh kumpulan pelampau dan tentera Myanmar sesungguhnya tidak dapat diterima oleh mana-mana tamadun dan agama. Ia adalah kezaliman yang sangat jelas dan melampau. Apatah lagi keganasan itu dapat disaksikan melalui media massa antarabangsa dan tempatan.

Rasulullah SAW dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Muslim daripada an-Nu’man Bin Basyir R.Anhu; “Perumpamaan orang-orang beriman dalam hal saling mencintai, mengasihi dan saling menyayangi adalah bagaikan satu tubuh. Jika salah satu anggotanya merasakan sakit, maka seluruh tubuh turut merasakannya dengan berjaga malam dan merasakan demam”.

Kita juga perlu menginsafi bahawa pelbagai musibah yang berlarutan ke atas umat ini adalah ujian daripada Allah SWT. Ia adalah sebahagian fitnah yang telah dinyatakan oleh Rasulullah SAW dalam hadis Baginda yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud daripada Thauban R.Anhu;“Akan tiba suatu masa di mana bangsa-bangsa dan seluruh dunia akan datang mengerumuni kamu bagaikan orang-orang yang hendak makan mengerumuni talam hidangan mereka. Maka salah seorang sahabat bertanya, “Apakah kerana bilangan kami sedikit pada hari itu?” Nabi SAW menjawab, “Bahkan kamu pada ketika itu banyak sekali, tetapi kamu umpama buih di waktu banjir, dan Allah mencabut rasa gerun terhadap kamu dari hati musuh-musuh kamu, dan Allah akan mencampakkan ke dalam hati kamu penyakit wahan.” Seorang sahabat bertanya, "Apakah wahan itu wahai Rasulullah?" Rasulullah SAW menjawab, “cintakan dunia dan takut mati”.

Kekuatan yang akan mempertahankan nasib dan maruah setiap warga Muslim. Kekuatan yang kita imbau dalam sejarah mulia seorang khalifah kerajaan Abbasiyyah bernama al-Mu’tasim Billah. Apabila seorang wanita Muslimah dianiaya dan dimalukan di sebuah pasar di negeri Amuriah, dia mengadu dari perbatasan yang jauh itu kepada khalifah di Baghdad. Walaupun tanpa media eletronik dan tanpa media sosial, aduan itu tetap sampai. Lalu Khalifah al-Mu’tasim bangkit dan menyahut: “Ya wahai ibu. Aku datang kepadamu!” Beliau berangkat bersama tenteranya lalu bertindak membela wanita ini dan menakluk bandar tersebut.

Asas kekuatan ini bukanlah terletak pada kelebihan harta dan kekayaan. Bukan juga pada bangsa dan keturunan. Tetapi ia terletak pada jiwa dan akidah kita, iaitu cinta akhirat dan keinginan berjuang untuk agama sehingga terkorban mati kerananya.

Memperingati nasib yang telah menimpa saudara-saudara kita, Muslim Rohingya di Arakan, Myanmar, marilah kita bertekad untuk membantu mereka dengan sedaya upaya kita, iaitu:

1. Umat Islam hendaklah sentiasa mendoakan ketabahan, keamanan dan kesejahteraan buat mereka. Kita doakan agar mereka tetap bertahan dengan iman dan akidah mereka, serta dilimpahi kesabaran dalam menghadapi musibah dan penindasan musuh yang tidak terperi itu.

2. Umat Islam hendaklah terus mendesak agar para penguasa Muslim dari seluruh dunia Islam mengenakan tekanan dan bantahan ke atas apa yang telah dilakukan terhadap warga Muslim Rohingya di Myanmar.

3. Umat Islam hendaklah sama-sama bertekad untuk memberikan bantuan kepada saudara-mara kita yang tertindas itu. Semoga dengan bantuan-bantuan itu, mereka akan dapat mempertahankan hak untuk hidup secara aman dan bermaruah di bumi mereka sendiri.

4. Umat Islam wajib berusaha ke arah penyatuan umat Islam seluruhnya, ke arah membentuk kekuatan bagi menghadapi segala penindasan yang telah berpanjangan ini. Kita harus mengenepikan pertelingkahan dan pertembungan yang tidak menguntungkan umat selama ini.

5. Umat Islam hendaklah menginsafi betapa perlunya berdikari menegakkan agama ini, tanpa meletakkan harapan pada golongan bukan Islam yang hanya membiarkan penyeksaan berterusan dilakukan ke atas umat ini.

“Dan janganlah engkau menyangka Allah lalai terhadap apa yang dilakukan oleh orang-orang yang zalim; Sesungguhnya ia hanya melambatkan balasan mereka hingga ke suatu hari yang padanya pandangan mereka akan terbeliak kaku.” (Ibrahim ; 42)

Taubat, muhasabah harungi ujian

KEHIDUPAN manusia seperti berada di dewan peperiksaan yang perlu menjawab pelbagai soalan. Jika kita gagal dalam peperiksaan itu, ia bukanlah salah soalan tetapi kerana salah jawapan yang diberikan.

Antara soalan dan ujian kehidupan ialah kegagalan, kesakitan, kesedihan, perpisahan, kematian dan sebagainya. Orang yang beriman juga tidak terkecuali untuk mendapat ujian daripada Allah SWT, malah ada kala lebih mencabar dugaannya untuk ditempuhi.

Sesungguhnya ujian adalah anugerah daripada Allah SWT dalam membentuk peribadi dan meletakkan darjat manusia di tempat yang mulia di sisi-Nya.

Begitulah perkongsian Ustaz Pahrol Mohd Juoi menerusi rancangan Islam Itu Indah di IKIMfm membicarakan topik 'Bila Diri Diuji.

'

SENTIASA berdoa memohon petunjuk dan kemaafan daripada Allah SWT.- Foto hiasan
Firman Allah SWT yang bermaksud: "Dialah yang telah mentakdirkan adanya mati dan hidup (kamu) - untuk menguji dan menzahirkan keadaan kamu: Siapakah antara kamu yang lebih baik amalnya dan Ia Maha Kuasa (membalas amal kamu), lagi Maha Pengampun, (bagi orang yang bertaubat)." (Surah al-Mulk, ayat 2)

Mesej utama yang disampaikan dalam ayat itu ialah Allah SWT mendatangkan ujian untuk mengetahui siapakah yang terbaik amalannya.

Setiap ujian itu sememangnya terkandung hikmah yang memberi kebaikan.

Sebagai manusia yang menjadi hamba dan khalifah di muka bumi, yakin serta percayalah setiap ujian diberi panduan serta bantuan untuk menempuhnya, iaitu rujukan daripada al-Quran, hadis dan contoh teladan ditunjukkan Rasulullah SAW.

Allah SWT tidak akan memberi ujian di luar kemampuan kita, justeru, bersangka baiklah kepada-Nya kerana di sebalik kepahitan ujian itu ada kebaikan.

Walaupun manusia tidak dapat mentafsirkan hikmah di sebalik ujian, Allah SWT tidak melepaskan sifat kasih sayang serta keadilan dalam ketentuan-Nya.

Bersangka baik dengan ujian

Selain bersangka baik kepada Allah SWT, ujian dan dugaan perlu ditempuhi dengan bermuhasabah diri, bertaubat serta mempertingkatkan ketakwaan kepada-Nya.

Sebagai hamba penuh kekurangan, kita perlu bertaubat daripada dosa kepada Allah SWT atau sesama manusia.

Sifat mazmumah atau dosa yang terdapat dalam diri mesti dihapuskan dengan memohon maaf. Berhentilah melakukan dosa dan kesalahan serta berazam tidak mengulanginya.

Perkasakan ibadah wajib dan tingkatkan ibadah sunat seperti solat sunat mahupun sedekah. Ibadah itu perlu dimantapkan serta seimbang menerusi ibadah berbentuk 'hablun minannas' mahupun 'hablun minallah'.

Tebus dosa dengan taubat

Firman Allah SWT yang bermaksud: "Apa juga kebaikan (nikmat kesenangan) yang engkau dapati maka ia adalah daripada Allah dan apa juga bencana yang menimpamu maka ia adalah daripada (kesalahan) dirimu sendiri." (Surah an-Nisa, ayat 79)

Pengajaran daripada ayat itu memberi keyakinan bahawa kita mempunyai dosa yang perlu ditebus dengan taubat kepada Allah SWT serta janganlah kita menyalahkan orang lain.

Kesinambungan terhadap ujian oleh Allah SWT dengan pelaksanaan ibadah, taubat serta doa adalah rencah utama menjadikan diri bersih daripada kesalahan dan dosa.

Oleh itu, beringatlah selalu bahawa kepedihan menghadapi ujian bergantung kepada hati dan kekuatan iman bukannya beratnya ujian itu.
Friday Sermon Text 25 November 2016AD / 25 Safar 1438H JAWI

The Ummah’s Next Generation

The khatib would like the congregation today to contemplate on the words of Dr. Yusuf Al-Qaradawi in respect of the younger generation:

jawi_logo.jpgHe said "If we want to see the future faces of the nation, look at the youths of today. If the youths of today are with high morals and sense of righteousness, then our nation’s future shall definitely be peaceful and prosperous "ٌ وَرَ ٌّّب غَفُوْر ٌ ٌ َطيِّبَة ةَدَْبل ,"but if the situation is otherwise, then be prepared to face the consequences.”

These words of wisdom clearly show us that today’s modern generation is the key in determining the future of a nation. It is they who shall also shape the future greatness of the country or otherwise.

This was evident when we consider the role played by young men and women at the time of Rasulullah SAW. In the course of Rasulullah SAW’s migration from Makkah to Madinah, Abdullah Bin Abu Bakar, a young man, was going back and forth between Makkah and Thur Cave. What was he doing? He was given the trust and responsibility to spy on the Non-Believers (Musyrikin) in Makkah, and deliver any information gathered to Rasulullah SAW and Saiyyidina Abu Bakr who were at Thur Cave. Similarly, we must remember the importance of the role assumed by a young woman named Asma, who provided food and transportation during the migration of Rasulullah SAW.

Let us reflect and learn through the story of the Ashabul Kahfi (The People of The Cave) who dared to resist their unjust king to defend their faith, as told through the words of Allah SWT in Surah Al-Kahf, verses 13 to 14:Which means: “We relate to you (O Muhammad), their story in truth: they were youths who believed in their Lord, and We advanced them in guidance: We gave strength to their hearts: Behold, they stood up and said: "Our Lord is the Lord of the heavens and of the earth: never shall we call upon any god other than Him: if we did, we should indeed have uttered an enormity!”

They are the best example of youths who were firm and steadfast in preserving the religion of Allah SWT, no matter what the situation they faced. Their hearts were tightly tied to the ‘rope’ of Allah SWT. They put religion ahead of other things.

The spirit and soul of Islam embedded within the People of The Cave should be inculcated and sown into the soul of today's modern generation. This will be a most powerful defence in ensuring that the youths of today are not lulled into the uncertainties of modernity. Reflect on a hadith of Rasulullah SAW, as recorded by Imam Ahmad rahimahullah based on a narration by 'Uqbah bin' Amir RA Which means: "Verily, Allah SWT admires the young man who does not follow his desires, namely by being firm in doing good and avoiding evil."

How modern today’s generation is can be seen in how they gather or acquire knowledge. Previously, knowledge was acquired by seeking out and learning from teachers and scholars. Knowledge was sought through studies within small groups (tallaqi), led by a qualified teacher and guided by a certain book in order to attain a certain spiritual status. Questions were asked with utmost humility and courtesy.

However, modernization and technology has made it possible for the acquisition of knowledge to be done through means that do not require face to face interaction with providers of knowledge, and can be accessed anywhere. Armed with only smartphones and the internet, knowledge can be gained without any restriction or filtration of its sources, to the extent that even now, as the khatib is delivering this sermon, there are some among the congregation who have their fingers still stuck on the screen of their smartphones.

Come! Let us on this blessed day spare a moment and reflect. Have we become the modern generation required by Islam? Or, just a generation preoccupied with modernity? Saiyyidina Umar Al-Khattab, when asked by the Companions, about what he wants in life, when others were busy wanting luxuries, being materialistic and acquiring wealth, gave an answer which very much affects the younger generation: "I want a group of youth who are like Abu Ubaidah al-Jarrah, Muadh ibn Jabal, and Salim Maula Abi Hudzaifah to help me uphold the religion.”

Therefore, in our quest to restore the greatness and the glory of the Ummah which was led by the younger generation of the time, such as the distinguished youths during the golden age of Islam, let us reflect and ponder on the following:

First: The modern generation of today is the reflection and the future of the people and of our beloved country Malaysia.

Second: An outstanding generation is a generation that always adheres to the teachings and guidance of the Al-Quran.

Third: The glories of past generations of youths should not only be great reading but should also be an example to be emulated and followed.

Allah SWT declared in Surah At-Tur, verse 21:Which means: “And those who believe and whose families follow them in Faith,- to them shall We join their families: Nor shall We deprive them (of the fruit) of aught of their works: (Yet) is each individual in pledge for his deeds.”

Tags:

Petikan Khutbah Jumaat 25 November 2016: JAIS
“Berpada-pada Dalam Berhibur ”
Dalam Islam hiburan itu adalah suatu aktiviti yang diharuskan namun perlaksanaannya mestilah mengikut syarat-syarat yang sesuai demi menjaga kesucian agama Islam daripada difitnah dan ditohmah oleh anasir luar.

jais.jpgHiburan secara umum diketahui adalah suatu aktiviti yang bertujuan untuk menghiburkan, menggembirakan dan mententeramkan hati serta diri seseorang.
Allah SWT telah memberikan peringatan kepada hamba-Nya berkenaan hal ini melalui surah al-Hadid ayat 20; “Ketahuilah bahawa (yang dikatakan) kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah permainan dan hiburan (yang melalaikan) serta perhiasan (yang berkurangan), juga bermegah-megah antara kamu (dengan kelebihan, kekuatan, dan bangsa keturunan) serta berlumba-lumba membanyakkan harta benda dan anak pinak. (Semuanya itu terhad waktunya) samalah seperti hujan yang (menumbuhkan tanaman yang menghijau subur) menjadikan para penanamnya gembira dengan kesuburannya, kemudian tanaman itu menjadi kering dan engkau melihatnya berwarna kuning; akhirnya ia menjadi hancur. (Ingatlah) di akhirat ada azab yang berat (disediakan bagi golongan yang hanya mengutamakan kehidupan dunia itu), dan (ada pula) keampunan besar serta keredhaan daripada Allah (disediakan bagi orang-orang yang mengutamakan Akhirat). (Ingatlah bahawa)kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan bagi orang yang terpedaya”.

Bahayanya budaya hiburan melampau di kalangan masyarakat kita khususnya kepada generasi muda, melalui senikata lagu berunsur cinta dan lucah, memuja wanita, mempamerkan pakaian-pakaian yang memberahikan serta menjolok mata, memujuk- mujuk dengan aksi-aksi yang memberangsangkan dan menggiurkan, berkaraoke yag melampau dan sebagainya.

Ini secara langsung mengakibatkan pergaulan bebas antara lelaki dan perempuan, perzinaan dan akhirnya melakukan pembuangan bayi serta lambakan anak-anak tidak sah taraf dalam masyarakat. Ini berdasarkan laporan daripada Jabatan Pendaftaran Negara, sebanyak 159,725 kelahiran anak luar nikah didaftarkan bermula 2013 hingga kini.
Gejala hiburan melampau atau hedonisme ini bukanlah lagi menjadi rahsia kepada masyarakat umum, bahkan dilihat mereka yang mempunyai asas didikan juga turut terlibat sama lemas dihanyut badai yang dibawa oleh gejala ini.

Firman Allah SWT dalam surah Luqman ayat 6; “Ada antara manusia, yang memilih serta membelanjakan hartanya kepada hiburan-hiburan yang melalaikan yang akibatnya menyesatkan (dirinya dan orang ramai) daripada jalan Allah dengan tidak berdasarkan sebarang pengetahuan dan ada pula orang yang menjadikan jalan Allah itu sebagai ejek-ejekan; merekalah orang yang akan beroleh azab yang menghinakan”.

Di samping itu, gejala hiburan yang melampau ini juga ada antaranya membawa satu misi atau tujuan untuk merosakkan akidah umat Islam pada kata-kata, pakaian dan mempamerkan gerak geri dan lambang yang meniru budaya dan cara hidup agama lain dan cinta kepada syirik.

Mengakhiri khutbah hari ini, mimbar ingin berpesan kepada seluruh umat Islam supaya;
1. Sentiasa memelihara batas-batas aqidah, syariah dan akhlak Islam dalam semua aktiviti kehidupan termasuklah hiburan.
2. Semua pihak hendaklah prihatin dalam mendidik dan membimbing anak-anak agar mereka tidak terjerumus dalam kancah hiburan yang melampau.
3. Umat Islam hendaklah menyedari bahawa hiburan yang melampau tidak akan membawa ketenangan dan kebahagiaan yang dicari, ia hanyalah umpama menggaru kurap dibadan, walaupun sedap digaru tetapi ianya akan merebak dan membawa kebinasaan kepada tubuh badan.

“(ingatlah) bahawa kehidupan dunia (yang tidak berlandaskan iman dan taqwa) hanyalah ibarat permainan dan hiburan. Jika kamu beriman dan bertaqwa, Allah akan memberikan pahala kepada kamu, dan Dia tidak sekalikali meminta harta kamu”.  (Muhammad ; 36)

Latest Month

December 2016
S M T W T F S
    123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Tags

Syndicate

RSS Atom
Powered by LiveJournal.com
Designed by Tiffany Chow