November 25th, 2016

Khutbah Jumaat: “Berpada-pada dalam berhibur ”

Petikan Khutbah Jumaat 25 November 2016: JAIS
“Berpada-pada Dalam Berhibur ”
Dalam Islam hiburan itu adalah suatu aktiviti yang diharuskan namun perlaksanaannya mestilah mengikut syarat-syarat yang sesuai demi menjaga kesucian agama Islam daripada difitnah dan ditohmah oleh anasir luar.

jais.jpgHiburan secara umum diketahui adalah suatu aktiviti yang bertujuan untuk menghiburkan, menggembirakan dan mententeramkan hati serta diri seseorang.
Allah SWT telah memberikan peringatan kepada hamba-Nya berkenaan hal ini melalui surah al-Hadid ayat 20; “Ketahuilah bahawa (yang dikatakan) kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah permainan dan hiburan (yang melalaikan) serta perhiasan (yang berkurangan), juga bermegah-megah antara kamu (dengan kelebihan, kekuatan, dan bangsa keturunan) serta berlumba-lumba membanyakkan harta benda dan anak pinak. (Semuanya itu terhad waktunya) samalah seperti hujan yang (menumbuhkan tanaman yang menghijau subur) menjadikan para penanamnya gembira dengan kesuburannya, kemudian tanaman itu menjadi kering dan engkau melihatnya berwarna kuning; akhirnya ia menjadi hancur. (Ingatlah) di akhirat ada azab yang berat (disediakan bagi golongan yang hanya mengutamakan kehidupan dunia itu), dan (ada pula) keampunan besar serta keredhaan daripada Allah (disediakan bagi orang-orang yang mengutamakan Akhirat). (Ingatlah bahawa)kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan bagi orang yang terpedaya”.

Bahayanya budaya hiburan melampau di kalangan masyarakat kita khususnya kepada generasi muda, melalui senikata lagu berunsur cinta dan lucah, memuja wanita, mempamerkan pakaian-pakaian yang memberahikan serta menjolok mata, memujuk- mujuk dengan aksi-aksi yang memberangsangkan dan menggiurkan, berkaraoke yag melampau dan sebagainya.

Ini secara langsung mengakibatkan pergaulan bebas antara lelaki dan perempuan, perzinaan dan akhirnya melakukan pembuangan bayi serta lambakan anak-anak tidak sah taraf dalam masyarakat. Ini berdasarkan laporan daripada Jabatan Pendaftaran Negara, sebanyak 159,725 kelahiran anak luar nikah didaftarkan bermula 2013 hingga kini.
Gejala hiburan melampau atau hedonisme ini bukanlah lagi menjadi rahsia kepada masyarakat umum, bahkan dilihat mereka yang mempunyai asas didikan juga turut terlibat sama lemas dihanyut badai yang dibawa oleh gejala ini.

Firman Allah SWT dalam surah Luqman ayat 6; “Ada antara manusia, yang memilih serta membelanjakan hartanya kepada hiburan-hiburan yang melalaikan yang akibatnya menyesatkan (dirinya dan orang ramai) daripada jalan Allah dengan tidak berdasarkan sebarang pengetahuan dan ada pula orang yang menjadikan jalan Allah itu sebagai ejek-ejekan; merekalah orang yang akan beroleh azab yang menghinakan”.

Di samping itu, gejala hiburan yang melampau ini juga ada antaranya membawa satu misi atau tujuan untuk merosakkan akidah umat Islam pada kata-kata, pakaian dan mempamerkan gerak geri dan lambang yang meniru budaya dan cara hidup agama lain dan cinta kepada syirik.

Mengakhiri khutbah hari ini, mimbar ingin berpesan kepada seluruh umat Islam supaya;
1. Sentiasa memelihara batas-batas aqidah, syariah dan akhlak Islam dalam semua aktiviti kehidupan termasuklah hiburan.
2. Semua pihak hendaklah prihatin dalam mendidik dan membimbing anak-anak agar mereka tidak terjerumus dalam kancah hiburan yang melampau.
3. Umat Islam hendaklah menyedari bahawa hiburan yang melampau tidak akan membawa ketenangan dan kebahagiaan yang dicari, ia hanyalah umpama menggaru kurap dibadan, walaupun sedap digaru tetapi ianya akan merebak dan membawa kebinasaan kepada tubuh badan.

“(ingatlah) bahawa kehidupan dunia (yang tidak berlandaskan iman dan taqwa) hanyalah ibarat permainan dan hiburan. Jika kamu beriman dan bertaqwa, Allah akan memberikan pahala kepada kamu, dan Dia tidak sekalikali meminta harta kamu”.  (Muhammad ; 36)

Friday Sermon Text The Ummah’s Next Generation

Friday Sermon Text 25 November 2016AD / 25 Safar 1438H JAWI

The Ummah’s Next Generation

The khatib would like the congregation today to contemplate on the words of Dr. Yusuf Al-Qaradawi in respect of the younger generation:

jawi_logo.jpgHe said "If we want to see the future faces of the nation, look at the youths of today. If the youths of today are with high morals and sense of righteousness, then our nation’s future shall definitely be peaceful and prosperous "ٌ وَرَ ٌّّب غَفُوْر ٌ ٌ َطيِّبَة ةَدَْبل ,"but if the situation is otherwise, then be prepared to face the consequences.”

These words of wisdom clearly show us that today’s modern generation is the key in determining the future of a nation. It is they who shall also shape the future greatness of the country or otherwise.

This was evident when we consider the role played by young men and women at the time of Rasulullah SAW. In the course of Rasulullah SAW’s migration from Makkah to Madinah, Abdullah Bin Abu Bakar, a young man, was going back and forth between Makkah and Thur Cave. What was he doing? He was given the trust and responsibility to spy on the Non-Believers (Musyrikin) in Makkah, and deliver any information gathered to Rasulullah SAW and Saiyyidina Abu Bakr who were at Thur Cave. Similarly, we must remember the importance of the role assumed by a young woman named Asma, who provided food and transportation during the migration of Rasulullah SAW.

Let us reflect and learn through the story of the Ashabul Kahfi (The People of The Cave) who dared to resist their unjust king to defend their faith, as told through the words of Allah SWT in Surah Al-Kahf, verses 13 to 14:Which means: “We relate to you (O Muhammad), their story in truth: they were youths who believed in their Lord, and We advanced them in guidance: We gave strength to their hearts: Behold, they stood up and said: "Our Lord is the Lord of the heavens and of the earth: never shall we call upon any god other than Him: if we did, we should indeed have uttered an enormity!”

They are the best example of youths who were firm and steadfast in preserving the religion of Allah SWT, no matter what the situation they faced. Their hearts were tightly tied to the ‘rope’ of Allah SWT. They put religion ahead of other things.

The spirit and soul of Islam embedded within the People of The Cave should be inculcated and sown into the soul of today's modern generation. This will be a most powerful defence in ensuring that the youths of today are not lulled into the uncertainties of modernity. Reflect on a hadith of Rasulullah SAW, as recorded by Imam Ahmad rahimahullah based on a narration by 'Uqbah bin' Amir RA Which means: "Verily, Allah SWT admires the young man who does not follow his desires, namely by being firm in doing good and avoiding evil."

How modern today’s generation is can be seen in how they gather or acquire knowledge. Previously, knowledge was acquired by seeking out and learning from teachers and scholars. Knowledge was sought through studies within small groups (tallaqi), led by a qualified teacher and guided by a certain book in order to attain a certain spiritual status. Questions were asked with utmost humility and courtesy.

However, modernization and technology has made it possible for the acquisition of knowledge to be done through means that do not require face to face interaction with providers of knowledge, and can be accessed anywhere. Armed with only smartphones and the internet, knowledge can be gained without any restriction or filtration of its sources, to the extent that even now, as the khatib is delivering this sermon, there are some among the congregation who have their fingers still stuck on the screen of their smartphones.

Come! Let us on this blessed day spare a moment and reflect. Have we become the modern generation required by Islam? Or, just a generation preoccupied with modernity? Saiyyidina Umar Al-Khattab, when asked by the Companions, about what he wants in life, when others were busy wanting luxuries, being materialistic and acquiring wealth, gave an answer which very much affects the younger generation: "I want a group of youth who are like Abu Ubaidah al-Jarrah, Muadh ibn Jabal, and Salim Maula Abi Hudzaifah to help me uphold the religion.”

Therefore, in our quest to restore the greatness and the glory of the Ummah which was led by the younger generation of the time, such as the distinguished youths during the golden age of Islam, let us reflect and ponder on the following:

First: The modern generation of today is the reflection and the future of the people and of our beloved country Malaysia.

Second: An outstanding generation is a generation that always adheres to the teachings and guidance of the Al-Quran.

Third: The glories of past generations of youths should not only be great reading but should also be an example to be emulated and followed.

Allah SWT declared in Surah At-Tur, verse 21:Which means: “And those who believe and whose families follow them in Faith,- to them shall We join their families: Nor shall We deprive them (of the fruit) of aught of their works: (Yet) is each individual in pledge for his deeds.”

Taubat, muhasabah harungi ujian

KEHIDUPAN manusia seperti berada di dewan peperiksaan yang perlu menjawab pelbagai soalan. Jika kita gagal dalam peperiksaan itu, ia bukanlah salah soalan tetapi kerana salah jawapan yang diberikan.

Antara soalan dan ujian kehidupan ialah kegagalan, kesakitan, kesedihan, perpisahan, kematian dan sebagainya. Orang yang beriman juga tidak terkecuali untuk mendapat ujian daripada Allah SWT, malah ada kala lebih mencabar dugaannya untuk ditempuhi.

Sesungguhnya ujian adalah anugerah daripada Allah SWT dalam membentuk peribadi dan meletakkan darjat manusia di tempat yang mulia di sisi-Nya.

Begitulah perkongsian Ustaz Pahrol Mohd Juoi menerusi rancangan Islam Itu Indah di IKIMfm membicarakan topik 'Bila Diri Diuji.

'

SENTIASA berdoa memohon petunjuk dan kemaafan daripada Allah SWT.- Foto hiasan
Firman Allah SWT yang bermaksud: "Dialah yang telah mentakdirkan adanya mati dan hidup (kamu) - untuk menguji dan menzahirkan keadaan kamu: Siapakah antara kamu yang lebih baik amalnya dan Ia Maha Kuasa (membalas amal kamu), lagi Maha Pengampun, (bagi orang yang bertaubat)." (Surah al-Mulk, ayat 2)

Mesej utama yang disampaikan dalam ayat itu ialah Allah SWT mendatangkan ujian untuk mengetahui siapakah yang terbaik amalannya.

Setiap ujian itu sememangnya terkandung hikmah yang memberi kebaikan.

Sebagai manusia yang menjadi hamba dan khalifah di muka bumi, yakin serta percayalah setiap ujian diberi panduan serta bantuan untuk menempuhnya, iaitu rujukan daripada al-Quran, hadis dan contoh teladan ditunjukkan Rasulullah SAW.

Allah SWT tidak akan memberi ujian di luar kemampuan kita, justeru, bersangka baiklah kepada-Nya kerana di sebalik kepahitan ujian itu ada kebaikan.

Walaupun manusia tidak dapat mentafsirkan hikmah di sebalik ujian, Allah SWT tidak melepaskan sifat kasih sayang serta keadilan dalam ketentuan-Nya.

Bersangka baik dengan ujian

Selain bersangka baik kepada Allah SWT, ujian dan dugaan perlu ditempuhi dengan bermuhasabah diri, bertaubat serta mempertingkatkan ketakwaan kepada-Nya.

Sebagai hamba penuh kekurangan, kita perlu bertaubat daripada dosa kepada Allah SWT atau sesama manusia.

Sifat mazmumah atau dosa yang terdapat dalam diri mesti dihapuskan dengan memohon maaf. Berhentilah melakukan dosa dan kesalahan serta berazam tidak mengulanginya.

Perkasakan ibadah wajib dan tingkatkan ibadah sunat seperti solat sunat mahupun sedekah. Ibadah itu perlu dimantapkan serta seimbang menerusi ibadah berbentuk 'hablun minannas' mahupun 'hablun minallah'.

Tebus dosa dengan taubat

Firman Allah SWT yang bermaksud: "Apa juga kebaikan (nikmat kesenangan) yang engkau dapati maka ia adalah daripada Allah dan apa juga bencana yang menimpamu maka ia adalah daripada (kesalahan) dirimu sendiri." (Surah an-Nisa, ayat 79)

Pengajaran daripada ayat itu memberi keyakinan bahawa kita mempunyai dosa yang perlu ditebus dengan taubat kepada Allah SWT serta janganlah kita menyalahkan orang lain.

Kesinambungan terhadap ujian oleh Allah SWT dengan pelaksanaan ibadah, taubat serta doa adalah rencah utama menjadikan diri bersih daripada kesalahan dan dosa.

Oleh itu, beringatlah selalu bahawa kepedihan menghadapi ujian bergantung kepada hati dan kekuatan iman bukannya beratnya ujian itu.