December 29th, 2017

Khutbah Jumaat : “Muhasabah Dan Azam”.

Petikan Khutbah Jumaat 29 Dis 2017M / 10 Rabiulakhir 1439H:JAIS

“Muhasabah Dan Azam”.

Sesungguhnya muhasabah boleh diertikan sebagai menilai semula segala amalan yang telah dilaksanakan pada masa yang lalu, sama ada untung atau rugi, bahagia atau sengsara dalam kehidupan yang dinisbahkan kepada iman atau kufur, taat atau maksiat, baik atau jais.jpgburuk serta pahala atau dosa.

Muhasabah juga menuntut kita untuk memikirkan perjalanan hidup kita sama ada kita semakin dekat dengan Allah atau semakin jauh dari Allah.

Ingatlah bahawa Allah SWT menyuruh kita mempersiapkan bekalan yang kita akan bawa pergi selepas kematian nanti.

Firman Allah SWT dalam surah al Hasyr ayat 18: “Wahai orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri melihat dan memerhatikan apa yang telah dilakukannya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan”.

Orang yang dikira beruntung adalah orang yang beriman dan mereka yang bijak merebut peluang dalam kehidupan mereka di dunia dalam meningkatkan amal-amal soleh untuk memastikan kebahagiaan hidup di akhirat.

Masa dan peluang yang ada tidak dipersia-siakan sebagaimana hadis daripada Amru bin Maimun Radiallahu Anhu bahawa Nabi SAW bersabda: “Manfaatkanlah lima perkara sebelum datang lima perkara: masa mudamu sebelum datang masa tuamu, dan masa sehatmu sebelum sakitmu, dan masa kayamu sebelum masa fakirmu, dan masa lapangmu sebelum sibukmu, dan hidupmu sebelum matimu”. (Riwayat al-Baihaqi).

Sehubungan itu secara umumnya ada tiga perkara yang perlu diberi perhatian dalam menjalani kehidupan di dunia ini.

1. Melakukan penilaian terhadap amalan yang kita kerjakan. Adakah ia menepati peraturan-peraturan syarak dari segi syarat rukunnya. Selain itu adakah ia dilakukan dengan ikhlas, semata-mata kerana Allah SWT, bersungguh-sungguh dan istiqamah. Penilaian ini penting untuk menentukan amalan kita sah dan diterima oleh Allah SWT yang dapat meraih pahala sebagai bekalan di akhirat.

2. Muhasabah diri sejauh mana kita meninggalkan segala larangan Allah SWT.

3. Menilai segala nikmat Allah yang dikurniakan kepada kita, seperti nikmat masa, kesihatan, kekayaan dan lain-lain lagi. Adakah ia dimanfaatkan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT sebagai tanda syukur, atau menyalah gunakannya dengan melakukan maksiat yang menyebabkan ia semakin jauh daripada Allah SWT hingga mengundang kemurkaan-Nya.

Dengan bermuhasabah, kita akan dapat mengesan kekuatan dan kelemahan, ketaatan atau keingkaran dimasa yang lepas.

Diriwayatkan daripada Syaddad bin Aus Radiallahu Anhu bahawa Rasulullah SAW bersabda: ِ“Orang yang cerdas adalah orang yang mempersiapkan dirinya dan beramal untuk hari setelah kematian. Orang yang bodoh adalah orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai ikutan dirinya dan beranganangan mendapat keredhaan Allah”. (Riwayat at-Tirmizi).

Sesungguhnya untuk mendapatkan kemanisan dalam beramal hasil daripada muhasabah, seseorang itu perlu mempunyai azam dan mujahadah yang kuat.

Tanpa azam dan tekad yang kuat seseorang tidak akan dapat merubah kebiasaan, lebih-lebih lagi apabila keadaan itu sudah membelenggu kehidupannya sehingga merasa selesa dengan kedudukan dan tingkah lakunya yang salah.

Allah SWT telah memerintahkan agar bersegera mencari keampunan dan syurga Allah yang terbentang luas. Firman Allah SWT dalam surah ali Imran ayat 133: “Dan bersegeralah kamu kepada mendapat keampunan daripada Tuhan-mu dan syurga yang seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang yang bertaqwa”.

Mengakhiri khutbah ini, marilah kita sama-sama mengambil pengajaran daripada khutbah ini:

1. Umat Islam wajib meyakini bahawa hari akhirat pasti akan berlaku.

2. Umat Islam mestilah membuat persiapan dengan memperbanyakkan amal-amal soleh untuk kehidupan hari akhirat disamping tidak meninggalkan kepentingan kebahagiaan hidup di dunia ini.

3. Umat Islam hendaklah mempunyai azam dan mujahadah yang kuat untuk merubah diri kepada yang lebih baik.

“Telah hampir datangnya kepada manusia hari perhitungan amalnya sedang mereka Dalam kelalaian, tidak hiraukan persediaan baginya”. (al-Anbia’ : 1).

Friday Sermon Text This Life As A Bridge To The Afterlife

Friday Sermon Text 29 December 2017AD / 10 Rabiulakhir 1439H JAWI

This Life As A Bridge To The Afterlife

We are aware that this life is only temporary. This world will not last forever. Only the Hereafter is eternal. Imagine the loss for the jawi_logo.jpgperson who only pursues pleasures of this world, when all of it shall perish.

Therefore, do not be fooled by this world, beautifully decorated for the eyes, but will eventually lead to nowhere. For those who are rushing in pursuit of this world, they are just like those who are absorbed in a game.

This parable has been described by Allah SWT in Surah Al-An'am, verse 32:Which means: “And the worldly life is not but amusement and diversion; but the home of the Hereafter is best for those who fear Allah, so will you not reason?”

We gain an immortal life only in the Hereafter. Therefore, live like a traveller, stopping once in a while in this world to collect provisions throughout our travel. The journey to the Hereafter is still a long one.

The best provision for the Hereafter is our conviction in Allah SWT. Imam al-Bukhari recorded a hadith narrated by Abdullah bin Umar R.A, where Rasulullah SAW was reported to have said:Which means: “Be in this world as if you were a stranger or a traveller along the path.”

Let us reflect upon some of the things that can ensure our wellbeing in the hereafter, which include the following:

First: Reflect about where we come from. Indeed, our existence on this earth is due to the mercy and love of Allah SWT.

Allah SWT declared in Surah Al-Mukminun, verses 12 to 14:“And certainly did We create man from an extract of clay. Then We placed him as a sperm-drop in a firm lodging. Then We made the sperm-drop into a clinging clot, and We made the clot into a lump [of flesh], and We made [from] the lump, bones, and We covered the bones with flesh; then We developed him into another creation. So blessed is Allah, the best of creators.”

Second: Reflect on our purpose in this world. Allah SWT did not create humans in vain. We have the responsibility to Allah SWT to fulfil His right, by only worshipping Him and to perform all that He has commanded us to do, and to avoid all that He has prohibited us from doing.

Our responsibilities towards mankind is stated in a hadith recorded by Imam Muslim Rahimahullah, and narrated by Abu Hurairah RA, where Rasulullah SAW was reported to have said: “Do not envy one another, and do not inflate prices for one another, and do not hate one another, and do not turn away from one another, and do not undercut one another in trade, but [rather] be slaves of Allah and brothers [amongst yourselves]. A Muslim is the brother of a Muslim: he does not oppress him, nor does he fail him, nor does he lie to him, nor does he hold him in contempt. Taqwa (piety) is right here [and he pointed to his chest three times]. It is evil enough for a man to despise his Muslim brother. The whole of a Muslim is inviolable for another Muslim: his blood, his property, and his honour.”

Third: Reflect on whether our provisions for the Hereafter are enough. The moment we are left alone in the grave, we will be questioned by the angels. After that, we shall be resurrected on the Day of Judgement for our deeds on earth to be judged. Only then shall all our good deeds and failings in this world be exposed.

Allah SWT reminded us through Surah Al-Isra’, verse 21:“Look how We have favoured [in provision] some of them over others. But, the Hereafter is greater in degrees [of difference] and greater in distinction.”

To end the sermon today, the mimbar would like to again remind the congregation on the takeaways we should learn from:

First: A person who looks for true devotion and conviction shall always be self-righteous, and assess where his position is, whether he is on the blessed path of Allah SWT, or otherwise.

Second: Death and the Day of Judgement should be motivation enough for a servant of Allah SWT to ponder and reflect upon his life in this world.

Third: Reflect on the commands and prohibitions of Allah SWT that we have committed to, and improve our relationship with others.

As declared by Allah SWT in the Al-Quran through Surah Al-Hasyr, verse 18. “O you who have believed, fear Allah. And let every soul look to what it has put forth for tomorrow - and fear Allah. Indeed, Allah is acquainted with what you do.”