May 3rd, 2018

Khutbah Jumaat : “Tanggungjawab Memilih Pemimpin”

Petikan Khutbah Jumaat 04 Mei 2018M / 18 Syaaban 1439H: JAIS

"Tanggungjawab Memilih Pemimpin”

Mengapa kita diwajibkan memilih pemimpin?

Pertama: Memilih pemimpin adalah satu tuntutan dalam agama.

Dalam sjais.jpgebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiallahu Anhu bahawa Rasulullah SAW bersabda: ْ “Apabila tiga orang berada dalam keadaan musafir, hendaklah mereka melantik salah seorang menjadi ketua.” (Riwayat Abu Daud).

Hadis ini menjelaskan bahawa pentingnya melantik pemimpin, bagi memastikan wujud keselarasan tindakan dalam kehidupan kaum Muslimin.

Pemilihan pemimpin merupakan satu bentuk penyaksian yang perlu dipenuhi dan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah di hari akhirat.

Firman Allah SWT dalam surah al-Baqarah, ayat 282:  “...dan janganlah saksi-saksi itu enggan apabila mereka dipanggil menjadi saksi...”

Kita bertanggungjawab untuk memilih pemimpin terbaik yang akan membawa kebaikan kepada agama, masyarakat, Negara dan umat Islam seluruhnya.

Kedua: Kita diwajibkan memilih pemimpin adalah kerana untuk mencari pemimpin yang terbaik.

Antara ciri-ciri pemimpin terbaik adalah orang yang berilmu pengetahuan yang luas, berkemampuan tubuh badan dan fizikalnya serta berintegriti yang tinggi.

Sifat-sifat ini dapat dilihat pada peribadi Nabi Musa AS, Nabi Yusuf AS dan panglima Talut ketika mereka mula diberikan tanggungjawab.

Firman Allah SWT tentang nabi Musa AS dalam surah al-Qasas ayat 26:“Salah seorang di antara perempuan yang berdua itu berkata: "Wahai ayah, ambilah dia (Musa) menjadi orang upahan (mengembala kambing kita), Sesungguhnya sebaik-baik orang yang ayah ambil bekerja ialah orang yang kuat, lagi amanah.”

Firman-Nya lagi tentang pemilihan Talut sebagai pemimpin yang berupaya dan berilmu dalam surah al-Baqarah ayat 247: “Nabi mereka berkata: “Sesungguhnya Allah telah memilihnya (Talut) menjadi raja kamu, dan telah mengurniakannya kelebihan dalam lapangan ilmu pengetahuan dan kegagahan tubuh badan.”

Manakala tentang kepimpinan Nabi Yusuf AS pula, Allah berfirman dalam surah Yusuf ayat 55: “Yusuf berkata: "Jadikanlah daku pengurus perbendaharaan hasil bumi (Mesir); Sesungguhnya aku sedia menjaganya dengan sebaik-baiknya, lagi mengetahui cara mentadbirkannya.”

Sungguh pun Negara kita memberi kebebasan dalam memilih pemimpin, namun kita diwajibkan memilih bakal pemimpin yang berilmu, berintegriti dan mampu membawa kesejahteraan kepada agama, bangsa dan Negara.

Ibnu Abbas Radhiallahu Anhuma meriwayatkan bahawa Rasulullah SAW bersabda:“Sesiapa yang melantik seseorang dari satu golongan, sedangkan dalam golongan itu ada calon yang lebih disukai Allah darinya, maka dia telah mengkhianati Allah, rasul-Nya dan semua orang yang beriman.” (Riwayat al-Hakim).

Hadis ini selaras dengan larangan keras Allah SWT supaya orang-orang yang beriman jangan sekali-kali mengkhianati Allah dan Rasul-Nya melalui firman-Nya dalam surah al-Anfal ayat 27:“Wahai orang-orang yang beriman! janganlah kamu mengkhianati (amanah) Allah dan Rasul-Nya, dan (janganlah) kamu mengkhianati amanahamanah kamu, sedangkan kamu mengetahui (salahnya).”

Islam amat menekankan soal akhlak walaupun terhadap musuh dalam peperangan. Apatah lagi terhadap persaingan dalam pemilihan secara demokrasi.

Sistem demokrasi itu sendiri diwujudkan supaya manusia bersaing mendapatkan kuasa secara aman, tanpa beradu tenaga dan senjata.

Jangan pula kita menipu atau memfitnah, membuat provokasi, katakata kesat, menyinggung peribadi seseorang dan sebagainya dalam berkempen.

Strategi begini sangat bertentangan dengan sifat utama pemimpin iaitu sifat jujur. Walaupun perkara ini dipandang remeh, namun ia adalah berat dosanya disisi Allah.

Firman Allah SWT dalam surah al-Nur ayat 15:“Semasa kamu bertanya atau menceritakan berita dusta itu dengan lidah kamu, dan memperkatakan dengan mulut kamu akan sesuatu yang kamu tidak mempunyai pengetahuan yang sah mengenainya; dan kamu pula menyangkanya perkara kecil, pada hal ia pada sisi hukum Allah adalah perkara yang besar dosanya.”

Mengakhiri bicara khutbah kali ini, dapatlah kita rumuskan beberapa pengajaran untuk penghayatan kita sebagai umat Islam, antaranya:

1. Umat Islam hendaklah beriman dan yakin bahawa pada hari akhirat kelak Allah SWT akan mempersoalkan semua amalan dan tindakan kita, termasuklah tanggungjawab memilih pemimpin.

2. Umat Islam hendaklah sentiasa menjaga akhlak sebagai seorang Muslim sepanjang berlangsungnya kempen pilihanraya.

3. Umat Islam hendaklah memilih pemimpin yang berintegriti, berilmu dan berkemampuan memikul tanggungjawab yang mampu membawa kesejahteraan kepada Negara supaya selamat dari berbagai kerosakan dan bala bencana dalam kehidupan ini.

“Telah timbul berbagai kerosakan dan bala bencana di darat dan di laut dengan sebab apa yang telah dilakukan oleh tangan manusia; (timbulnya yang demikian) kerana Allah hendak merasakan mereka sebahagian dari balasan perbuatan-perbuatan buruk yang mereka telah lakukan, supaya mereka kembali (insaf dan bertaubat).” (al-Rum : 41)

Friday Sermon Text: Fulfill Our Duty Towards The Nation

Friday Sermon Text: 4 May 2018AD / 18 Syaaban 1439H JAWI

Fulfill Our Duty Towards The Nation


llAllah SWT has made mankind His Vicegerent on earth and we are responsible to govern, manage and run the world. It is not a simple, task especially when it is a trust that is so heavy,

jawi_logo.jpgAs explained by Allah SWT in surah al-Ahzab, verse 72 which was read at the beginning of this sermon, and which has the following meaning: “Indeed, we offered the Trust to the heavens and the earth and the mountains, and they declined to bear it and feared it; but man [undertook to] bear it. Indeed, he was unjust and ignorant.”

Malaysia has followed the system of Parliamentary Democracy and Constitutional Monarchy since we achieved independence in 1957. This is enshrined in Article 44 of the Federal Constitution. The Malaysian Constitution was introduced on 16th of September 1963 with 183 articles.

The constitution is an official document which contains all the rules and principles as guidance to the government in using its powers to manage the country. The constitution safeguards the basic rights and freedoms of the people of our nation.

Each citizen has basic rights and freedoms, such as the right to be in unions and associations, to believe in religion, and to own property.

Islam teaches its followers to have good patriotic spirit and to love the nation for the sake of the religion. The prophets of old, namely Prophet Ibrahim AS, made the love for his nation known in his supplication to Allah SWT. The basis for such love is for the sake of the religion of Allah SWT.

This has been recorded by Allah SWT in surah al-Baqarah, verse 126:“And [mention] when Abraham said, "My Lord, make this a secure city and provide its people with fruits - whoever of them believes in Allah and the Last Day." [ Allah ] said. "And whoever disbelieves - I will grant him enjoyment for a little; then I will force him to the punishment of the Fire, and wretched is the destination." ”

The feeling of love and affection for the nation and homeland is natural in humans. Therefore, besides supplicating to Allah SWT, as citizens we should declare our allegiance to the nation, to respect its Constitution, and to obey its laws.

We should be responsible enough to protect the sociocultural stability existing within it, such as by being respectful of each other’s race, religion and culture.

The key is to practice wasatiyah and be moderate in all our dealings and daily life.

In our country, the federal legislative power rests with the parliament, which consist of the Yang Di-pertuan Agong and the two houses of parliament, namely the Dewan Negara and the Dewan Rakyat. Parliament is placed at the top and is the body which represents the citizens in making laws and national policy.

Through Parliamentary Democracy, citizens have the right to choose their leaders and their government. The representative chosen by the citizens, be it for the parliament or state legislative body, shall act to safeguard the interests of citizens whom they represent.

The act of choosing leaders and government in a parliamentary democracy is undertaken through general elections. The election is a way to channel the participation of citizens in making political decisions.

As Muslim citizens, surely performing our responsibility as voters is a trust and a responsibility, especially when it concerns the continuity of the sanctity of the religion of Islam in our nation

The heat of the fourteenth (14th) General Election is being felt, especially on social media platforms, where supporters of the respective parties incessantly debate, to the point they commit slander and project their ill feelings.

The heat continues from the social media to the Parliament, from the coffee shops to the political ceramah, where all forms of debates can be observed.

Sadly, from positive criticism of the other side, it has come down to the point of hurling insults and verbal abuse which does not show the good morals that Muslims should possess.

Remember the advice of Rasulullah SAW, as narrated by Imam alBukhari Rahimahullah, from Abu Hurairah RA, where Rasulullah SAW was reported to have said: Which means: “Whoever believes in Allah and the Day of Judgment must utter good words or else stay silent.”

To conclude the sermon on this auspicious day, the following are the gist for us to ponder upon:

First: Malaysia has its own uniqueness, as it subscribes to a democratic parliamentary system with constitutional monarchy.

Second: Islam teaches its followers to stimulate patriotism and to love the country for the sake of the religion.

Third: Fulfilling our role as voters is one proof of our allegiance and concern as responsible citizens.

Allah SWT declared in Surah al-Nisa’ verse 58:“Indeed, Allah commands you to render trusts to whom they are due and when you judge between people to judge with justice. Excellent is that which Allah instructs you. Indeed, Allah is ever Hearing and Seeing.”