mt961013 (mt961013) wrote,
mt961013
mt961013

Penghalusan bahasa menipu manusia

ISLAM mengenal hakikat keadilan dan wasatiyyah adalah meletakkan segala perkara atau sesuatu pada tempatnya. Bila mana meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya, maka hal itu dikatakan suatu kezaliman atau melampau. Hal ini tidak hanya berlaku pada satu perkara, namun pada semua aspek kehidupan umat manusia. Termasuk penggunaan bahasa.

Dalam ilmu bahasa dikenali dengan istilah eufimisme atau yang secara harfiah diertikan sebagai penghalusan bahasa. Eufimisme pada hakikatnya sangat diperlukan oleh manusia dalam hubungan sosialnya, lebih-lebih lagi kita bangsa timur ini mempunyai watak berbudi luhur dan bersopan-santun.

Justeru, dalam pergaulan sehari-hari kita lebih suka menggunakan istilah ‘bilik air’ untuk tandas bagi membuang air besar atau kecil. Manakala istilah ‘kurang bagus’ untuk menyebut sesuatu hal yang buruk, menggunakan istilah ‘kurang pandai’ untuk seseorang yang bodoh, istilah ‘kurang banyak’ untuk yang sedikit dan lain-lainnya.
Dalam ilmu bahasa dikenali dengan istilah eufimisme atau yang secara harfiah diertikan sebagai penghalusan bahasa



Politik adalah suatu seni atau cara untuk merebut kekuasaan dan mempertahankan kekuasaan itu sendiri.


Dalam ilmu psikologi, eufimisme sering digunakan untuk memotivasi seseorang. Eufisme juga sering dimanfaatkan di dalam kelas-kelas hubungan masyarakat, kelas etiket dan keperibadian dan lainnya. Namun di dunia ini segala sesuatu tentu ada baik dan buruknya. Istilah popularnya, Man Behind The Gun bergantung siapa yang berada di belakang segala sesuatu.

Eufimisme yang awalnya digunakan untuk hal-hal yang positif dalam ertian menjaga hubungan antara manusia agar menjadi lebih baik dan bijak, apabila diseret ke lapangan politik menjadi sesuatu hal yang jahat.

Politik adalah suatu seni atau cara untuk merebut kekuasaan dan mempertahankan kekuasaan itu sendiri. Dalam kekuasaan, terdapat berbagai keistimewaan yang tidak akan diperoleh seseorang atau suatu kelompok jika dia tidak berkuasa. Jika seseorang atau sekelompok orang telah berhasil meraih kekuasaan, maka dengan cara apa pun, tak peduli halal atau haram, baik atau buruk, dengan sekuat tenaga mereka akan mempertahankan kerusi kekuasaan itu.

Semakin media massa atau media sosial suatu negara banyak menggunakan eufimisme atau penghalusan kata, maka semakin tiranik dan koruplah sifat negara itu, bahkan bila penguasa tersebut menyebut sistem kekuasaannya sebagai demokrasi, maka hal itu adalah demokrasi-demokrasian alias pseudo-democration. Ini merupakan hukum besi sejarah.

Dalam arena politik, eufimisme lazim dimanfaatkan untuk menutupi kejahatan, keburukan daripada penguasa dan daripada rakyatnya sendiri. Dengan menggunakan eufimisme, rakyat dikelabui mata, ditipu oleh penguasa dengan istilah-istilah yang terdengar bagus dan menyenangkan.

Misalnya orang sering mendengar istilah ‘hutang luar negara’ disebut sebagai ‘bantuan luar negara’. Padahal dua perkara ini sangat berbeza. Bantuan tentu tidak perlu dikembalikan, sebagaimana halnya hibah. Namun hutang wajib dibayar mengikut syarat-syaratnya. Kita juga sering mendengar istilah ‘kenaikan harga’ sebagai ‘penyesuaian harga’ dan istilah ‘negara terkebelakang’ disebut dengan ‘negara berkembang’ dan sebagainya.

Istilah ‘makan suap’ disebut juga sebagai ‘tumbuk rusuk’ untuk menghalalkan sesuatu cara, padahal kedua-duanya itu sama sahaja dengan ‘rasuah’ terutamanya dalam bidang politik, organisasi dan sebagainya. Pada statusnya tetap hukumnya haram. Bangkai tetap sahaja akan mengeluarkan bau busuk walau disiram dengan minyak wangi berkilo-kilo liter banyaknya, tetap berbau.

Menjadi wakil rakyat bagi kebanyakan orang bukanlah pengabdian, tapi tempat mencari nafkah, tempat mengubah hidup dari miskin menjadi kaya-raya, tempat pelarian dan sebagainya. Ini bagi kebanyakan orang, bukan semua. Parti politik sekarang merupakan jambatan emas menuju kekayaan. Ini secara de facto. Sebab itu sebutan ‘wakil rakyat’ seharusnya diubah menjadi ‘wakil parti’. Ini baru benar.

Umat mesti dicelikkan, bukan dibutakan, dicerdikkan bukan diperbodohkan, dimajukan bukan dimundurkan. Buangkan semua eufimisme dalam penulisan, pemerintahan, organisasi dan politik. Umat yang bekerja dan membangun negeri dan negara diperlukan umat yang kritis dan cerdas, bukan umat yang jumud, taqlid muqaliddun, yang hanya pandai berkata-kata dan berjanji manis di bibir, yang tidak punya matlamat untuk kesejahteraan umat.

Hanya kebenaranlah, al-Haq yang mampu membangun bumi ALLAH ini.
Tags: bahasa, politik
Subscribe

  • Post a new comment

    Error

    Anonymous comments are disabled in this journal

    default userpic

    Your IP address will be recorded 

  • 0 comments